Depan Metamorfosa Seorang Pemimpin, Menuju Tatanan Era Digital Dan Optimalisasi Sumber Daya Manusia

Metamorfosa Seorang Pemimpin, Menuju Tatanan Era Digital Dan Optimalisasi Sumber Daya Manusia

 

Apabila melihat dari sudut pandang kepemimpinan, pesatnya perkembangan teknologi mendorong pemimpin untuk memiliki kemampuan berinteraksi di dunia nyata dan dunia digital.

Keterampilan komunikasi multidimensi ini menjadi kian penting. Pengintegrasian teknologi terhadap budaya kerja yang menggabungkan antara online dan offline, membuat pemimpin perlu untuk beradaptasi di dua dunia, sehingga pemimpin multidimensi punya kecakapan intelektual, sosial, dan digital yang sama baiknya.

Hingga di akhir tahun, ada banyak dinamika dan perkembangan yang bisa mengubah kebijakan pemerintahan dan organisasi setiap saat. Setelah berakhirnya tahun 2021 dan dimulainya tahun 2022, ada berbagai tantangan yang cukup pelik yang dihadapi pemimpin.

Melihat kondisi dunia saat ini, membuat kepemimpinan yang bersifat multidimensi menjadi semakin relevan. Pemimpin perlu melihat semua masalah dari sudut pandang helikopter (melihat dari atas-red) untuk mengidentifikasi solusi yang bisa dirumuskan bersama-sama dan dijalankan.

Perkembangan yang telah terjadi selama pandemi membuat tuntutan pekerjaan dan pekerja juga berubah. Perubahan itu normal dan perlu kita pikirkan solusi untuk mengatasinya. Semua isu di atas akan menjadi tantangan di tahun 2022 dan membutuhkan pendekatan penyelesaian yang berbeda.

Ada beberapa persoalan yang bisa memengaruhi kerja organisasi: manajemen talenta, budaya organisasi, dan kesehatan mental. Pemimpin multidimensi perlu memiliki kejelian dalam melihat akar persoalannya. Selain itu, semangat pemimpin untuk terus belajar dan open mind menjadi faktor pendukung yang akan membantu pemimpin menemukan benang merah dari setiap persoalan yang dihadapi.

Aspek terpenting lainnya adalah bagaimana pemimpin mampu mengatur ritme emosinya, karena berada di dua dunia tentu melelahkan. Pemimpin akan menghadapi berbagai karakter anggota di dunia nyata dan dunia digital. Ketika pemimpin tidak mampu mengelola emosinya, maka ritme kerja akan berantakan. Ditambah hubungan sosial dan profesional yang terjalin antara pemimpin dan bawahan menjadi renggang.

Kecakapan sosial dan digital serta kecerdasan emosi hanya beberapa aspek dari kepemimpinan yang dibutuhkan saat ini. Melihat tantangan-tantangan ke depan, pemimpin juga mutlak untuk memiliki wawasan dan cakrawala lintas bidang yang luas.

Disamping itu, pembentukan budaya kerja juga harus maksimal. Ada beberapa opsi yang mungkin bisa dilakukan para pemimpin di pemerintahan. Pertama, pemimpin bisa menerapkan "Hari Wajib Masuk" untuk seluruh anggotanya. Melihat fenomena budaya kerja hybrid (online dan offline-red) dan keinginan menginternalisasikan budaya organisasi, cara ini bisa dilakukan sehingga bisa menguatkan pemahaman tentang budaya kerja organisasi, dengan menerapkan kultur inovatif dan inklusif. Maksudnya adalah dengan memberikan kebebasan untuk berinovasi di dalam pekerjaannya. Selain itu, pemimpin perlu lebih membaur dengan bawahan nya.

Dengan begitu, jarak sosial antara pemimpin dan bawahan menjadi berkurang, dalam artian, bawahan akan senang memiliki pemimpin yang membaur dan peduli. Hal itu bisa menguatkan ikatan antara leader dan bawahan. Pemimpin perlu mendalami pola komunikasi di dua dunia, ruang nyata dan ruang maya.

Tentang kesehatan mental, pemimpin perlu mempertimbangkan beban kerja bawahannya, di mana salah satu faktor pekerja stres adalah beban kerja yang berlebihan. Pemimpin bisa bertanya tentang pekerjaan yang saat ini sedang dijalankan sebelum memberikan beban kerja tambahan kepada bawahannya. Ini bisa membuat hasil kerja lebih optimal karena memiliki beban yang seimbang, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.

Memang, antara percepatan dan kemampuan individu bawahan bagai “pisau bermata dua”. Disatu sisi kebijakan akan percepatan mendorong dan cenderung menuntut bagi seorang pemimpin, namun disisi lain seorang pemimpin harus dapat memahami tentang kekurangan masing-masing individu dan mampu mengeksplor kelebihan individu antar bawahan agar progres percepatan dapat terealisasikan.

Peran departemen sumber daya manusia juga vital untuk mengatasi kesehatan mental. Mereka bisa berperan lebih banyak dalam isu ini. Departemen sumber daya manusia dapat mengadakan sesi konseling berkala untuk mengecek keadaan mental para anggotanya.

Upaya ini berharga karena tersedianya ruang untuk bercerita, terlebih jika pekerjanya mayoritas pemuda dan berjiwa muda. Keluhan para anggota bisa menjadi masukan berharga untuk kebijakan pemerintahan yang lebih baik.

Tentunya, masih ada solusi-solusi lainnya yang bisa diterapkan. Namun, poin pentingnya adalah bagaimana setiap pemerintahan dapat menyelesaikan masalah ini dengan tepat. Talenta, budaya kerja, dan kesehatan mental adalah tiga hal fundamental yang perlu diselesaikan oleh pemimpin.

Tahun 2022, pemimpin harus bertransformasi menjadi pemimpin yang multidimensi. Pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, kecakapan berinteraksi di dunia sosial dan digital, serta punya wawasan luas, haus belajar, ‘dahaga’ ilmu dan memiliki penglihatan helicopter view (melihat dari atas-red). Dunia membutuhkan pemimpin multidimensi. Semangat baru dan terus berproses lebih baik.

 

“Tambakbaya Juara”

 

Opini oleh ‘JPD’ Jaring Pewarta Desa

(Sudiana/Dian - Yayat Supriatna)