Merawat Harapan dari Tambakbaya: Mewujudkan Desa Inklusif Ramah Disabilitas Mental
KUNINGAN – RRI Cirebon kembali menghadirkan program Live! Podcast yang menginspirasi pada Rabu, 13 Mei 2026. Mengusung tema "Merawat Harapan dari Tambakbaya: Desa Inklusif Ramah Disabilitas Mental", diskusi ini menyoroti keberhasilan Desa Tambakbaya, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan, dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan suportif bagi penyandang disabilitas mental.
Program yang dipandu oleh presenter Lisma Julia Sari ini menghadirkan narasumber utama, yakni Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Kuningan, Ence Hadiat Rohanda, A.KS., M.Si., Kuwu Desa Tambakbaya sekaligus Ketua LKS Rumah Antara Graha Berdaya, Lukman Mulyadi, serta seorang penyintas disabilitas mental, Yati Nurhayati.
Sinergi Membangun Kemandirian
Desa Tambakbaya kini menjadi model bagi desa lain di Kabupaten Kuningan dalam penanganan disabilitas mental. Melalui pendekatan berbasis komunitas dan pemberdayaan, stigma yang selama ini melekat pada penyandang disabilitas mental perlahan terkikis, digantikan dengan ruang untuk berdaya dan berkarya.
Ence Hadiat Rohanda, A.KS., M.Si., dalam paparannya menyatakan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang lahir dari akar rumput ini.
"Pemerintah Kabupaten Kuningan sangat mendukung model pemberdayaan di Tambakbaya. Keberhasilan desa ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat dan dukungan lingkungan sosial, penyandang disabilitas mental mampu memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan produktif. Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara melalui sinergi antara pemerintah dan LKS di tingkat desa."
Senada dengan hal tersebut, Lukman Mulyadi, Kuwu Desa Tambakbaya sekaligus penggerak LKS Rumah Antara Graha Berdaya, menekankan pentingnya penerimaan masyarakat.
"Bagi kami di Tambakbaya, disabilitas mental bukan aib, melainkan tanggung jawab kemanusiaan. Di Graha Berdaya, kami tidak hanya memberikan pendampingan medis, tetapi juga terapi okupasi dan ruang interaksi sosial. Kami ingin memastikan mereka merasa diterima, dihargai, dan memiliki harapan yang sama dengan warga lainnya."
Suara dari Penyintas
Kehadiran Yati Nurhayati sebagai penyintas dalam podcast ini memberikan perspektif yang menyentuh. Ia berbagi pengalamannya tentang bagaimana dukungan dari lingkungan sekitar membantunya bangkit dari keterpurukan.
"Dulu saya merasa sendiri dan putus asa karena kondisi saya. Namun, kehadiran Graha Berdaya dan dukungan warga desa membuat saya sadar bahwa saya tidak sendirian. Sekarang, saya bisa kembali beraktivitas, merasa tenang, dan yang paling penting, saya merasa dihargai sebagai manusia. Harapan itu ternyata masih ada."
Diskusi ini ditutup dengan harapan besar agar model "Desa Inklusif" seperti Tambakbaya dapat direplikasi di lebih banyak desa di Indonesia, demi terciptanya masyarakat yang tidak meninggalkan satu orang pun di belakang (leaving no one behind).

Reporter: Tim RRI Cirebon Tanggal: 13 Mei 2026



